Pengukuran
kinerja adalah sebuah penilaian untuk menentukan seberapa efektifnya suatu
operasi berjalan dalam suatu organisasi berdasarkan criteria yang ditetapkan
sebelumnya. Sedangkan menurut Joseph Tiffin penilaian kinerja adalah sebuah
penilaian sistematis terhadap karyawan oleh atasannya atau beberapa ahli
lainnya yang paham akan pelaksanaan pekerjaan oleh karyawan atau jabatan itu,
dan menurut Henry Simamora penilaian kerja ialah suatu alat yang
berfaedah tidak hanya untuk mengevaluasi kerja dari para karyawan, tetapi
juga untuk mengembangkan dan memotivasi kalangan karyawan.
Secara definisi Performance atau
kinerja dalam kamus manajemen (Sugian,2006:166) adalah pencapaian oleh
individu, tim, organisasi atau proses. Mathies (2000:78) mengemukakan bahwa
kinerja pada dasarnya apa yang dilakukan atau tidak dilakukan karyawan.Kinerja
dalam sehari-hari dapat diistilahkah dengan prestasi kerja. Prestasi kerja
tidak serta merta dapat dicapai oleh seseorang, belum pernah kita dengar ada
seseorang berprestasi dengan hanya berpangku tangan. Untuk menjadi orang
berprestasi dalam diri seseorang paling tidak diperlukan dua syarat, yakni ada
kemauan keras atau berupaya sungguh-sungguh dan memiliki kemampuan untuk
melakukan pekerjaan.
Sementara Robbins
(Moeheriono,2009:61) menyebut bahwa kinerja sebagai fungsi interaksi antara
kemampuan atau ability (A), motivasi atau motivation (M), dan kesempatan atau
opportunity (O), atau Performance merupakan fungsi dari Motivation, Ability dan
Opportunity atau jika dirumuskan menjadi P= f(MxAxO). Jika organisasi
menghendaki karyawannya berprestasi yang optimal, seharusnyalah manajemen
memberikan kesempatan bagi karyawannya untuk melakukan pekerjaan secara optimal
pula.
Untuk meningkatkan motivasi
kerja karyawan, manajemen bisa merancang agar karyawannya dapat memiliki
semangat yang tinggi dalam bekerja, melalui pemberian kompensasi yang layak dan
memberikan imbalan yang memadai atas prestasi kerja yang diperoleh karyawannya.
Sedangkan untuk meningkatkan kemampuan kerja karyawannya, manajemen dapat
meningkatkan kemampuan kerja karyawannya melalui pendidikan atau pelatihan yang
relevan dengan bidang tugasnya.
Agar upaya manajemen dapat
optimal untuk meningkatkan kinerja karyawannya, manajemen dapat merancang iklim
organisasi pada suasana yang menyenankan bagi karyawannya, sehingga karyawan
dapat bekerja bukan hanya semata-mata berharap imbalan dari organisasinya
melainkan bekerja dengan penuh komitmen .
Sewajarnya pengukuran kinerja merupakan salah satu kegiatan rutin perusahaan yang
dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi kinerjanya dalam suatu periode
tertentu. Namun yang seringkali dijumpai, perusahaan hanya melakukan pengukuran
kinerja pada aspek finansial saja, dimana selama perusahaan bisa menghasilkan
profit, maka dianggap kinerja perusahaan sudah baik. Oleh karena itu perIu
dirancang ulang suatu sistem pengukuran kinerja yang memperhatikan aspek
finansial dan non-finansial. Metode yang digunakan adalah Metode Performance
Prism yang mampu mengukur kinerja perusahaan secara lebih terintegrasi yaitu
dengan melihat 5 sudut pandang suatu perusahaan dari sisi kepuasan dan
kontribusi stakeholder, strategi, proses, serta kemampuan yang dimiliki oleh
perusahaan.
.
Pengukuran kinerja memiliki kaitan erat dengan akuntabilitas, seperti
halnya akuntabilitas memiliki kaitan erat dengan NPM. Untuk memantapkan
mekanisme akuntabilitas, diperlukan manajemen kinerja yang didalamnya terdapat
indikator kinerja dan target kinerja, pelaporan kinerja, dan mekanisme reward
and punishment (Ormond and Loffler, 2002). Indikator pengukuran kinerja
yang baik mempunyai karakteristik relevant, unambiguous, cost-effective,
dan simple (Accounts Commission for Scotland, 1998) serta berfungsi
sebagai sinyal atau alarm yang menunjukkan bahwa terdapat masalah yang
memerlukan tindakan manajemen dan investigasi lebih lanjut (Jackson, 1995).
Fokus pengukuran kinerja terdiri
dari tiga hal yaitu produk, proses, dan orang (pegawai dan masyarakat) yang
dibandingkan dengan standar yang ditetapkan dengan wajar (benchmarking)
yang dapat berupa anggaran atau target, atau adanya pembanding dari luar
(Hoque, 2002). Selain itu penilaian dilakukan dengan BSC (balanced scorecard, BSC) yang merupakan suatu konsep untuk
mengukur apakah aktivitas-aktivitas operasional suatu perusahaan dalam skala yang lebih kecil sejalan
dengan sasaran yang lebih besar dalam hal visi dan strategi. BSC pertama kali
dikembangkan dan digunakan pada perusahaan Analog Devices pada tahun 1987. Dengan tidak berfokus hanya pada berfokus pada hasil finansial
melainkan juga masalah manusia, BSC membantu memberikan pandangan yang lebih
menyeluruh pada suatu perusahaan yang pada gilirannya akan membantu organisasi
untuk bertindak sesuai tujuan jangka panjangnya. Sistem manajemen
strategis membantu
manajer untuk berfokus pada ukuran kinerja sambil menyeimbangkan sasaran
finansial dengan perspektif pelanggan, proses, dan karyawan.
Balanced
Scorecard membantu organisasi untuk menghadapi dua masalah fundamental:
mengukur performa organisasi secara efektif dan mengimplementasikan strategi
dengan sukses. Secara tradisional, pengukuran terhadap bisnis berkisar pada
aspek finansial, yang kemudian banyak mendatangkan kritik. Ukuran finansial
tidaklah konsisten dengan lingkungan bisnis saat ini, punya daya prediktif yang
lemah, mengakibatkan munculnya silo fungsional, menghambat cara berpikir jangka
panjang, dan tidak lantas bisa relevan bagi kebanyakan level organisasi.
Mengimplementasikan strategi secara efektif menjadi permasalahan tersendiri.
Setidaknya terdapat empat pembatas implementasi strategi di organisasi:
pembatas visi, pembatas orang, pembatas sumberdaya, dan pembatas manajemen.
Kompensasi Manajemen
ompensasi adalah seluruh imbalan yang diterima
karyawan atas hasil kerja karyawan tersebut pada organisasi. Kompensasi bisa
berupa fisik maupun non fisik dan harus dihitung dan diberikan kepada karyawan
sesuai dengan pengorbanan yang telah diberikannya kepada organisasi /
perusahaan tempat ia bekerja.
Perusahaan dalam memberikan kompensasi kepada para
pekerja terlebih dahulu melakukan penghitungan kinerja dengan membuat sistem
penilaian kinerja yang adil. Sistem tersebut umumnya berisi kriteria penilaian
setiap pegawai yang ada misalnya mulai dari jumlah pekerjaan yang bisa
diselesaikan, kecepatan kerja, komunikasi dengan pekerja lain, perilaku,
pengetahuan atas pekerjaan, dan lain sebainya.
Para karyawan mungkin akan menghitung-hitung kinerja
dan pengorbanan dirinya dengan kompensasi yang diterima. Apabila karyawan
merasa tidak puas dengan kompensasi yang didapat, maka dia dapat mencoba
mencari pekerjaan lain yang memberi kompensasi lebih baik. Hal itu cukup
berbahaya bagi perusahaan apabila pesaing merekrut / membajak karyawan yang
merasa tidak puas tersebut karena dapat membocorkan rahasia perusahaan / organisasi.
Kompensasi yang baik akan memberi beberapa efek
positif pada organisasi / perusahaan sebagai berikut di bawah ini :
a. Mendapatkan karyawan berkualitas baik
b. Memacu pekerja untuk bekerja lebih giat dan meraih prestasi gemilang
c. Memikat pelamar kerja berkualitas dari lowongan kerja yang ada
d. Mudah dalam pelaksanaan dalam administrasi maupun aspek hukumnya
e. Memiliki keunggulan lebih dari pesaing / kompetitor
a. Mendapatkan karyawan berkualitas baik
b. Memacu pekerja untuk bekerja lebih giat dan meraih prestasi gemilang
c. Memikat pelamar kerja berkualitas dari lowongan kerja yang ada
d. Mudah dalam pelaksanaan dalam administrasi maupun aspek hukumnya
e. Memiliki keunggulan lebih dari pesaing / kompetitor
Macam-Macam / Jenis-Jenis Kompensasi Yang Diberikan
Pada Karyawan :
1. Imbalan Ektrinsik
a. Imbalan ektrinsik yang berbentuk uang antara lain
misalnya :
- gaji
- upah
- honor
- bonus
- komisi
- insentif
- upah, dll
- gaji
- upah
- honor
- bonus
- komisi
- insentif
- upah, dll
b. Imbalan ektrinsik yang bentuknya sebagai benefit
/ tunjangan pelengkap contohnya seperti :
- uang cuti
- uang makan
- uang transportasi / antar jemput
- asuransi
- jamsostek / jaminan sosial tenaga kerja
- uang pensiun
- rekreasi
- beasiswa melanjutkan kuliah, dsb
- uang cuti
- uang makan
- uang transportasi / antar jemput
- asuransi
- jamsostek / jaminan sosial tenaga kerja
- uang pensiun
- rekreasi
- beasiswa melanjutkan kuliah, dsb
2. Imbalan Intrinsik
Imbalan dalam bentuk intrinsik yang tidak berbentuk
fisik dan hanya dapat dirasakan berupa kelangsungan pekerjaan, jenjang karir
yang jelas, kondisi lingkungan kerja, pekerjaan yang menarik, dan lain-lain.
Salah satu fungsi MSDM adalah Kompensasi. Kompensasi
adalah bagian dari manajemen. Sistem kompensasi yang baik dapat memberikan
kontribusi yang signifikan terhadap keberhasilan bisnis. Kompensasi merupakan
sesuatu yang diterima karyawan sebagai pengganti kontribusi jasa mereka pada
perusahaan. Kompensasi juga merupakan biaya utama atas keahlian atau pekerjaan
dan kesetiaan dalam bisnis.
Suatu organisasi akan selalu berusaha untuk
mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Namun hal ini harus disesuaikan dengan
kondisi lingkungan organisasi, baik di dalam dan di luar organisasi. Pengaturan
kompensasi merupakan faktor penting untuk menarik dan mempertahankan tenaga
kerja. Kompensasi dapat berbentuk Finansial dan Non-Finansial.
Selanjutnya adalah faktor-faktor yang mempengaruhi
kompensasi (Martoyo:2003):
- Kebenaran dan keadilan; pemberian kompensasi disesuaikan dengan kemampuan, kecakapanm pendidikan dan jasa yang telah ditunjukkan kepada organisasi. Dengan demikian setiap pegawai dapat merasakan bahwa organisasi telah menghargai jasanya.
- Dana organisasi; suatu organisai dalam memberikan kompensasi kepada pegawainya harus disesuaikan dengan kemampuan dana yang dimiliki oleh organisasi tersebut. Olehkarena itu organisasi harus dapat menghimpun dana sebanyak mungkin melalui prestasi kerja yang ditunjukkan oleh para pegawai. Sehingga dengan prestasi yang terus meningkat maka organisasi akan mendapatkan banyak keuntungan.
- . Serikat Karyawan; serikat karyawan merupakan symbol kekuatan karyawan dalam menuntut perbaikan nasib, yang perlu mendapatkan perhatian. Serikat karyawan yang ada pada suatu organisasi akan berfungsi sebgai alat kontrol dalam penetapan kompensasi.
- . Produktifitas kerja; semakin tingginya tingkat produktifitas seorang pegawai maka hal ini akan menjadi pertimbangan bagi organisasi untuk memberikan kompensasi. Karena produktifitas merupakan salah satu indikator prestasi kerja pegawai.
- . Biaya hidup; organisasi juga harus memperhatikan biaya hidup karyawan beserta keluarganya. Artinya perlu adanya penyesuaian pemberian kompensasi dengan biaya hidup. Namun demikian ini merupakan hal yang cukup sulit untuk menentukan biaya hidup seseorang. Ini disebabkan oleh sifatnya sangat relative, oleh karena itu perlu sangat sulit untuk menentukan hidup yang layak tersebut.
- . Pemerintah; selaku pengayom masyarakat perlu ikut campur dalam penentuan kompensasi bagai seorang pekerja. Pemerintah harus membuat peraturan dan perundang-undangan untuk dlaam menentukan kompensasi.
-
Sumber: http://mohamad-khaidir.blogspot.com/2013/07/makalah-ukuran-kinerja-kompensasi.html
http://herususilofia.lecture.ub.ac.id/2013/02/pokok-bahasan-i-manajemen-kinerja-dan-kompensasi-konsep-dasar-manajemen-kinerja/
http://tesar-newsflash.blogspot.com/2012/06/pengukuran-kinerja-manajemen-dan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar