Desain pekerjaan atau job
design merupakan faktor penting dalam manajemen terutama manajemen operasi
karena selain berhubungan dengan produktifitas juga menyangkut tenaga kerja
yang akan melaksanakan kegiatan operasi perusahaan. Desain pekerjaan
adalah suatu alat untuk memotivasi dan memberi tantangan pada karyawan.
Oleh karena itu perusahaan perlu memiliki suatu sistem kerja yang dapat
menunjang tercapainya tujuan perusahaan secara efektif dan efisien yang
dapat merangsang karyawan untuk bekerja secara produktif, mengurangi timbulnya
rasa bosan dan dapat meningkatkan kepuasan kerja, desain pekerjaan
terkadang digunakan untuk menghadapi stress kerja yang dihadapi karyawan.
Menurut Handoko (1996, h 31), desain pekerjaan adalah fungsi
penetapan kegiatan-kegiatan kerja seorang individu atau kelompok karyawan
secara organisasional. Tujuannya
adalah untuk mengatur pengawasan-pengawasan kerja yang memenuhi
kebutuhan-kebutuhan organisasi, teknologi dan keprilakuan. Dari sudut pandang
manajemen personalia, desain pekerjaan sangat mempengaruhi kualitas kehidupan
kerja, dimana hal ini tercermin pada kepuasan individu para pemegang jabatan
Atas dasar pentingnya peranan yang dimainkan desain
pekerjaan dalam kualitas kehidupan kerja, yang secara khusus membahas
elemen-elemen desain pekerjaan, “trade-offs” yang dihadapi departemen
personalia dalam memilih rancangan, dan peralatan-peralatan perancangan kembali
pekerjaan. Setelah kita membicarakan karakteristik pekerjaan ideal yang
menentukan kualitas kehidupan kerja, pembahasan dilanjutkan dengan menguraikan
ciri-ciri nyata (actual) yang sekarang ada dalam setiap pekerjaan. Para
manajer perlu mengetahui karakteristik-karakteristik, standar-standar dan
kemampuan manusia yang diperlukan setiap pekerjaan. Atau dengan kata lain,
mereka memerlukan informasi tentang pekerjaan-pekerjaan yang mereka kendalikan,
yang diperoleh melalui analisis pekerjaan.
Suatu proses dimana manajer memutuskan tugas pekerjaan individu maupun wewenangnya. Desain pekerjaan melibatkan keputusan dan tindakan manjerial yang menspesifikasikan tujuan “job depth, range and relationships” untuk memuaskan kebutuhan organisasi maupun kebutuhan sosial dan pribadi dari pekerjaan yang diembannya.
Desain pekerjaan adalah hasil dari analisis pekerjaan (job analysis) yang ditandai oleh 3 (tiga) karakteristik yaitu :
a. Job Range : jumlah tugas seseorang yang diharapkan dapat dilaksanakan ketika melaksanakan pekerjaan. Semakin banyak tugas yang diperlukan, semakin besar lingkup (range) pekerjaannya.
b. Job Depth : derajat pengaruh setiap individu mempunyai untuk memilih bagaimana pekerjaan akan dilakukan.
c. Job Relationship : hubungan interpersonal yang diperlukan atau kemungkinan dibuat terhadap pekerjaan.
Yang terkait dengan analisis pekerjaan adalah :
a. Job Content : terkait dengan aktivitas kebutuhan kerja. Metode yang digunakan adalah Functional Job Analysis (FJA) yang meliputi : apakah pekerja melakukan pekerjaannya berhubungan dengan data, orang dan pekerjaan ?; metode dan teknik apakah yang pekerja gunakan ?; mesin, alat dan perlengkapan yang digunakan dalam bekerja ? serta bahan baku, produk barang atau jasa apa yang dihasilkan pekerja ?
b. Job Requirement : berkaitan dengan pendidikan, pengalaman, sertifikat, dan karakteristik pribadi yang diperlukan terkait dengan job content. Metode yang digunakan adalah Position Analysis Questionare (PAQ) yang meliputi 5 (lima) hal yaitu : sumber informasi kritis terhadap kinerja pekerjaan, pengolahan informasi dan pengambilan keputusan kritis terkait dengan kinerja, aktivitas fisik yang diperlukan dalam pekerjaan, hubungan antar pribadi yang dibutuhkan sesuai pekerjaan, reaksi individu terhadap kondisi pekerjaan.
c. Job Context : lingkungan fisik dan kondisi lingkungan kerja lainnya, disertai dengan pertimbangan faktor lain sebagai pekerjaan ekstrinsik.
Dari 4 (empat) variable yang terpengaruh (produktivitas, absenteeisme,
turnover dan job satisfaction) manajer mengkhawatirkan pelaksanaan
dua dari keempat variable tersebut yaitu masalah produktivitas dan job
satisfaction.Bentuk dan struktur pekerjaan sangat mempengaruhi bagaimana
karyawan berpendapat mengenai suatu pekerjaan, sejauhmana seorang karyawan
memiliki kewenangan terhadap suatu pekerjaan, seberapa jauh tingkat pengambilan
keputusan bisa diperoleh karyawan, dan komponen pekerjaan apa yang harus
dikerjakan karyawan dalam rangka penyelesaian tugasnya. (Agus Sunyoto,
2008,h.50).
Jadi dengan mengubah dan menyusun kembali corak pekerjaan,
kita ingin agar karyawan itu mau mengerjakan pekerjaannya dengan tekun,
mencapai sasaran, dan juga memperoleh kepuasan dalam mengerjakannya itu. Jadi,
desain pekerjaan adalah upaya memanipulasi dimana pekerjaan itu dilaksanakan
dengan menyesuaikan isi pekerjaan (job content), fungsi yang harus
diembannya, dan hubungan (interpersonal) yang harus dilakukan oleh
karyawan untuk mensukseskan pelaksanaan pekerjaan, selain itu karyawan yang
mengerjakannya memperoleh kepuasan yang tinggi. Job content adalah tugas
spesifik yang diperlukan dalam suatu pekerjaan.
Elemen-elemen
Desain Pekerjaan
Menurut Handoko (1996, h 32), barangkali kegiatan
desain yang paling menantang (dan membingungkan) bagi menajemen adalah
pengembangan dan pengaturan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan setiap
karyawan dan kelompok karyawan. Ini diakibatkan paling tidak tiga hal
pekerjaan, yaitu :
a.
Pada
hakikatnya sering terjadi konflik antara kebutuhan-kebutuhan dan
keinginan-keinginan karyawan dan kelompok karyawan dengan berbagai pesyaratan
sedain pekerjaan.
b.
Sifat unik
setiap karyaawan mengakibatkan munculnya bermacam-macam tanggapan dalam wujud
sikap, kegiatan phisik dan produktivitas dalam pelaksanaan pekerjaan tertentu.
c.
Perubahan-perubahan lingkungan, organisasional dan
perilaku karyawan membuat desain pekerjaan, ketepatan pendekatan-pendekatan
pengembangan kerja standard an model-model tradisional profesional perilaku
karyawan harus selalu dipertanyakan.
Elemen-elemen Organisasi
Menurut Handoko
(1996, h 33), elemen-elemen organisasi pada desain pekerjaan bersangkutan
dengan efisiensi. Pekerjaan-pekerjaan yang dirancang secara efisien mendorong
karyawan yang mampu dan termotivasi untuk mencapai keluaran maksimum. Perhatian
efisiensi ini telah dimulai sejak munculnya manajemen ilmiah.
Para ahli
mencurahkan riset mereka untuk menemukan cara-cara terbaik untuk merancang
pekerjaan-pekerjaan yang efisien. Studi gerak dan waktu memberikan suatu
disiplin baru, yaitu teknik industri. Berbagai upaya tersebut menunjukan bahwa
spesialisasi adalah elemen kunci dalam desain pekerjaan. Bila para karyawan
bekerja berulang-ulang, sampai batas tertentu tingkat keluaran biasanya lebih
tinggi.
Berikut ini
diuraikan elemen-elemen organisasional dalam desain pekerjaan:
d.
Pendekatan
mekanistik
Pendekatan
mekanistik berupaya untuk mengidentifikasikan setiap tugas dalam pekerjaan agar
tugas-tugas dapat diatur untuk meminimumkan waktu dan tenaga para karyawan.
Setelah identifikasi tugas selesai, sejumlah tugas dikelompokan menjadi suatu
pekerjaan. Hasilnya adalah spesialisasi. Pendekatan ini menekankan efisiensi
waktu, tenaga, biaya tenaga kerja, latihan dan waktu belajar karyawan. Teknik
ini masih secara luas dilingkungan dalam operasi-operasi perakitan pada zaman
sekarang, dan terutama efektif bila para karyawan kurang berpendidikan atau
kurang mempunyai pengalaman industrial.
e.
Aliran
kerja
Aliran
kerja dalam suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh sifat produk atau jasa
biasanya menentukan urutan dan keseimbangan pekerjaan-pekerjaan.
f.
Praktek-praktek
kerja
Praktek-praktek
kerja adalah acara-acara pelaksanaan kerja yang ditetapkan. Metode-metode
ini bisa terbentuk dari tradisi, atau kesempatan kolektif para karyawan, atau
bagian kontrak (perjanjian) kerja serikat karyawan manajemen. Hal ini
mengurangi fleksibilitas departemen personalia dalam merancang
pekerjaan-pekerjaan.
Elemen-elemen Lingkungan
Menurut Handoko
(1996, h 35) aspek kedua desain pekerjaan berkaitan dengan elemen-elemen
lingkunagan. Seperti dalam hampir semua kegiatan personalia, para perancang
pekerjaan tidak dapat mengabaikan pengaruh lingkungan ekternal. Elemen-elemen
lingkungan pokok dalam perancang pekerjaan-pekerjaan tidak dapat mengabaikan
pengaruh lingkungan eksternal. Elemen-elemen lingkungan dan tersedianya para
karyawan potensial, dan pengharapan-pangharapan sosial.
d.
Kemampuan dan tersedianya karyawan
Pertimbangan efisiensi harus diselaraskan dengan
kemampuan dan tersedianya karyawan yang akan melaksanakan pekerjaan sebagai
contoh, meskipun tingkat pengangguran tinggi, banyak lowongan pekerjaan yang
kadang-kadang sulit untuk diisi karena tidak tersedianya calon karyawan yang
mempunyai kemampuan tertentu.
e.
Berbagai pengharapan sosial
Desain pekerjaan juga dipengaruhi oleh penghargaan
manyarakat. Sebagai contoh, masyarakat dimana lokasi pabrik berada, meskipun
tidak keterampilan, dalam kenyataannya sering menurut lapangan pekerjaan yang
tersedia bagi mereka. Disamping itu, para karyawan yang semakin berpendidikan
mempengaruhi pengharapan lebih tinggi dalam hal kualitas kehidupan kerja.
Meskipun aliran dan praktek-praktek kerja mungkin menyarankan suatu desain
pekerjaan tertentu, pekerjaan tertentu, pekerjaan harus memenuhi
harapan-harapan para karyawan.
Elemen-elemen Keperilakuan
Menurut Handoko (1996, h 36) ada bebrapa elemen
keprilakuan yang perlu dipertimbangkan dalam desain pekerjaan, yaitu:
a. Otonomi:
yang berarti mempunyai tanggung jawab atas apa yang dilakukan.
Pekerjaan-pekerjaan yang memberikan kepada para karyawan wewenang untuk
mengambil keputusan-keputusan, berarti menambah tanggung jawab, akan cenderung
meningkatkan perasaan dipercaya dan dihargai. Kurangnya otonomi akan
memnyebabkan katyawan menjadi apatis atau menurun prestasi kerjanya.
b. Variasi:
kurangnya variasi pekerjaan bisa menyebabkan kebosanan. Dan selanjutnya,
kebosanan menimbulkan kelemahan, dan kelelahan mengakibatkan
kesalahan-kesalahan.
c. Identitas
tugas: bila pekerjaan-pekerjaan tidak mempunyai identitas, para
karyawan tidak akan atau kurang merasa bertanggung jawab dan
mungkin kurang bangga dengan hasil-hasilnya. Ini berarti kontribusi mereka
tidak tampak, sehingga kepuasan kerja bisa menurun.
d. Umpan
balik: bila pekerjaan-pekerjaan memberikan umpan balik tentang seberapa
baik pelaksanaan pekerjaan, maka karyawan akan mempunyai pedoman atau motivasi
untuk melaksanakan dengan baik lebih baik.
Dale, Barry. Managing Quality. Oxford: Blackwell Publishing Ltd, 2003.
Davis, Tony. Talent Assessment. Jakarta:PPM Publisher, 2009.
Purwanegara, Djumhana, Dkk. Pengembangan Sumber Daya
Manusia: Teori dan Dinamika Praktik.
Bandung: Dea Art Pustaka, 2009.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar